Posted by : Nurhadi Prayogi 28 January 2012

Memiliki sebuah studio rekaman baik pribadi maupun yang taraf profesional, adalah merupakan idaman bagi para musisi. Jika anda bermodal besar maka tak susah payah anda baik yang pemula maupun yang memang sudah mengerti masalah recording, tinggal membeli satu set komplit dengan daftar alat-alat yang memang sudah dianjurkan oleh pakarnya. Akan tetapi jika anda seorang pemula yang membeli alat satu persatu (nungguin budget terkumpul), maka anda harus berhati-hati dalam memilih alat untuk home recording studio anda.

Sebaiknya anda jangan terburu-buru dalam membeli alat, perbanyak referensi masukan tentang daftar alat-alat yang dibutuhkan, anda bisa berdiskusi lewat internet maupun tanyain langsung sama sang audio engineering yang anda percayai. Jangan sampai karena butuh terwujut cepat impian anda, maka anda grubak-grubuk dalam membeli alat, yang nantinya berbuntut membeli alat baru lagi dikarenakan alat yang sudah anda beli tidak cocok.

Peralatan yang dibutuhkan untuk mambangun sebuah studio recording ada banyak macamnya, nah disini naknus akan mencoba mengenalkan pentinganya sebuat studio monitor bagi studio recording anda. Pengalaman yang naknus alami dan juga dari temen-temen yang pernah bilang adalah, ketika kita sudah memixing dan menjadikan hasil rekaman dalam bentuk MP3, ternyata pas di setel di lain tempat hasilnya jauh berbeda. Yang suara basnya jadi hilang, treablenya kebesaran, dan berbagai macam hal. Ternyata setelah berkonsultasi sama pakar-pakar dan nyari-nyari penyebabnya di internet, hal tersebut dikarenakan disaat proses mixingnya menggunakan studio monitor yang tidak standar (maklum bos lagi nyoba-nyoba alias amatiran).




Sebuah studio monitor yang profesional sangatlah diperlukan dalam proses penggarapan perekaman lagu yang kita rekam. Para audio engineering banyak yang menyarankan untuk menggunakan studio monitor yang merespon frekuensi flat / linear. Banyak yang mengatakanya dengan “speaker flat” dengan kata lain sebuah speaker yang mampu mereproduksi kualitas nada suara yang akurat dari audio sumber (sering diistilahkan dengan “uncolored” atau “transparan”) dan speaker tersebut bisa meminimalisir emphasis atau de-emphaisis (tekanan) dengan demikin tidak ada pergeseran phase shift dari sebuah frekuensi yang artinya tidak ada distorsi dalam penggunaan speaker ini. Jadi dengan menggunakan speaker flat kita akan mendapat suara dasarnya atau aslinya. Dan biasanya speaker flat mampu merespon frekuensi dalam range yang luas sehingga semua peralatan yang kita rekam terdengar dengan jelas semuanya.

Speaker monitor bentuknya ada berbagai macam, ada yang pasif dan ada yang aktif. Speaker flat pasif sering disebut dengan “unpowered monitors & amp”, pada sistem pengoperasiannya menggunakan power ampli yang terpisah, dan untuk instalasinya harus memerlukan sedikit pengetahuan tentang audio instalasi. Jika anda seorang pemula setingannya ditanggung ruwet, tapi jika anda seorang profesional, metode ini akan menghasilkan sebuah sistem monitor yang anda inginkan. Nah satunya lagi adalah speaker flat berjenis aktif, disini anda tidak diwajibkan memiliki pengetahuan tentang ohms, watt, damping, overload protection, crossover dan lain-lainnya, tinggal colok langsung jadi, karena didalamnya telah terinstal power ampli yang tinggal colok, cuman jika anda menginginkan fasilitas yang lebih, seperti colokannya berapa, kekuatan powernya berapa dan lain sebagainya, anda menemui kesulitan untuk menambahkannya, harus terperinci sebelum membeli, liat dulu fasilitas didalamnya.

Harga untuk sebuah monitor flat boleh dibilang bisa bikin kantong bolong. Jika anda berkeinginan membeli speaker monitor yang flat maka siap-siap dulu budgetnya. Jika anda belum kuat membeli speaker flat maka bisa juga anda mencari headphone dengan kelas standart studio. Akan tetapi dengan menggunakan headphone yang berkelas bukan merupakan solusi yang akurat. Banyak para ahli yang mengatakan jika kita memixing dan memastering dengan menggunakan headphone, maka hasilnya kurang maksimal. Suara speaker headphone suaranya langsung tepat ke telingga kita, jadi suaranya sempurna, jika dipake untuk memixing suara akustiknya kurang keluar. Telinga kita merupakan telinga stereo, suatu kesalahannya jika kita menggunakan headphone adalah telinga kanan kita tidak mendengar speaker disebelah kiri, begitu juga sebaliknya telinga kiri tidak mendengar speaker sebelah kanan. Dengan memonitoring hasil rekaman dengan menggunakan headphone suara terdengar sempurna, jadi pas kita mastering biasanya hasilnya terdengar bagus dan sempurna, tetapi pas disetel ditempat lain yang tidak menggunakan headphone, hasilnya jadi menurun. Jadi jika kita memonitor dengan menggunakan headphone, bukan menjadi patokan yang pas.

Menurut naknus jika anda serius membangun setudio recording, sound monitor yang profesional harus anda miliki, tetapi jika untuk home recording, sebuah headphone standart studio sudah cukup, sembari anda mengumpulkan uang untuk membeli speaker monitor flat. Dan jika dana tidak mencukupi maka speaker maupun headphone sembarangpun juga tidak menjadi masalah, cuman hasil rekamannya nanti kalo diputar ditempat lain, jadinya berbeda jauh dan tidak bisa dijadikan patokan dalam memixing maupun mastering.

- Copyright © Nurhadi Prayogi - Powered by Blogger - Designed by Nurhadi Prayogi -