Posted by : Nurhadi Prayogi 17 February 2012

Aku adalah AKU
“Hidup ini seperti perjalanan” itu yang selalu orang katakan. Singgah di satu tempat ke tempat lain, apa bila kita melakukan perjalanan  jauh kita harus mempunyai bekal dan kita harus mampu untuk menghadapi jalan yang belum kita ketahui sebelumnya, apakah jalan itu terjal dan berliku atau penuh dengan batu kerikil.
Aku pikir, sama saja dengan cinta, namun perjalanan kali ini lebih unik, bisa saja dibilang seperti tamasya karena kita disini ingin sekali mencari tempat yang bagus, indah dan nyaman. Bahkan tak tanggung tanggung mengeluarkan uang yang banyak demi sampai ke tempat tujuan. Tapi… kalau sudah bosan dengan suasananya, kita meninggalkanya begitu saja. Huh.. dasar manusia memang seperti itu, seperti pepatah yang sudah ngetren “ Habis manis sepah dilepeh”.  Tapi disitulah yang uniknya, kita bisa saja menetap di suatu tempat yang sudah sesuai dengan keinginan kita. Tanpa harus bertamasya ke tempat lain.
Begitulah mungkin kiranya yang ingin aku lakukan saat pertama kali aku menemukan cinta pertamaku, kata orang pula “cinta pertama itu ga bisa dilupain, bisa juga di bawa ampe mati”. Mungkin memang benar, cinta pertama pasti semuanya juga serba pertama. Kali itu pertama kalinya aku menyukai lawan jenisku.
Waktu itu aku masih kelas dua SMP disebuah SMP Swasta. Aku merupakan salah satu anak yang aktif berorganisasi. Semua organisasi yang ada di Sekolah pasti sudah aku rasain termasuk Ekskul seperti Pramuka, Volley dll. Dan salah satunya adalah Ekskul MAHATMA yaitu dimana kita berlatih pernafasan agar kita tetap sehat, Ekskul ini baru ada, jadi patut di coba. Aku dan sahabat ku sebut saja ALYA dia kakak kelasku, kami adalah peserta yang paling rajin datang. Suatu hari kami latihan, Latihan kali ini pun seperti latihan biasanya, namun  ada sedikit yang lebih berbeda, kali ini topik pembicaraan antara aku dan Alya sedikit melenceng dari Bab latihan. Pembicaraan kami terfokus kepada seorang lelaki yang pada saat itu aku fikir ia berbeda dari biasanya, lebih Manis… lebih imut, lebih tampan dan lebih menggemaskan. Kulitnya yang putih di padankan dengan kaos Coklat, ooohhh… sungguh membuatku tergoda. Setelah habis melakukan 7 jurus kami istirahat terlebih dahulu, kami duduk di teras depan kelas.
“nyeng….” Panggilan sayangku pada Alya
“apa Nong??” jawabnya datar tanpa menolehku sama sekali, tangannya pun masih sibuk dengan jurusnya.
“kayaknya si Koas coklat keliatan beda deh!!” Kataku, sambil ku lirik orang yang ku maksud
“kaos coklat? Yang mana?” Alya mulai tertarik dengan perkataanku.
“temen lu, sekelas lagi!”
“iya yah… lebih imut” jawabnya, sepertinya ia langsung tahu orang yang aku maksud. “kenapa, Suka?” alya langsung menyekak mat.
“heh?” aku kaget campur bingung
“tenang…. Entar di salamin, tinggal terima beres deh…” Sambungnya, sepertinya ia hendak menyomblangkan aku.
“waih? Boleh juga tuh…. Sapa nolak” tantang ku, jujur saat itu aku hanya bercanda, dan sungguh aku belum mempunyai secuilpun perasaan yang aneh padanya. Setelah cukup lama beristirahat, akhirnya kami melanjutkan latihan kami kembali.
******
Hari berganti hari, semakin bergantinya hari semakin aku mencuri perhatian dari lelaki itu, sepertinya aku sudah mulai merasakan sesuatu yang aneh pada diriku, aneh sekali… setiap aku melihatnya, mataku tak mau berkedip, setiap aku bertemu dengannya aku tak mau jauh darinya, setiap aku melamun selalu ada saja ia mondar mandir di dalam pikiranku, gak cape apa yah?? Duh…. Aku ingin banget bilang sama dia “kamu punya peta ga?, soalnya aku tersesat nih... dimatamu” atau aku bilang “kamu sakit panas yah? Soalnya kamu terlihat HOT banget!” aku juga ingin bilang “bokap kamu teroris yah? Soalnya kamu udah ngebom hatiku” aduh... aduh... Bener kan ada sesuatu yang aneh? Kata Alya sih itu namanya aku sudah GILA.
Sudah sebulan ini aku terserang demam cinta, tapi belum sembuh juga. Gawat kan? Obat satu satunya adalah sang kaos coklat punya feel yang sama denganku. Fuih… mungkin gak yah? Aku kan tomboy, rambutku ga pernah panjang, aku tuh kucel soalnya jarang banget mandi, aku sama kuat kaya cowo, dan semua perangkat alat preman aku pake mulai dari Slayer, Dekker, topi, gelang duri, dan lain lain. Beda banget ama mantanya si Kaos coklat yang imut, alim, sopan, feminism, baik lagi. Huuh… she is very perfect girls. But… that ok, I have something that people haven’t. Sebut saja cewe itu namanya TITA. Dulu dia mantan si kaos coklat, tapi sekarang dia malah ngedukung berat aku deket ama cowo itu, aneh kan? Mungkin karena dia temen segeng aku kali. Ohh… iya aku hampir lupa aku punya geng, kami terdiri dari tujuh cewe imut, lucu, manis (suer deh… boong baget). Kebetulan enam dari personil kami merupakan anak ekskul pramuka Aku, Tita, Ani, Irma, Ecca, dan Ayya. Jadi kami sangat sangat bisa di bilang akrab banget soalnya kita juga sekelas.
Sampai pada suatu Bulan yaitu bulan yang paling bersejarah bagi sekolah ku. Biasanya pada saat HUT Paguyuban, sekolahku mengadakan perayaan yang lumayan wah... mengadakan pentas seni, perlombaan dan lain lain. Tentunya yang menjadi panitia pelaksananya adalah anak OSIS dan Pramuka, dan kebetulan Si Kaos coklat juga anak OSIS sekaligus Pramuka. Beruntung yah.. soalnya aku juga sama (hihi..hihi..). sebelum hari H, semua anggota pramuka menyiapkan segalanya, dari membuat tenda, panggung dan menyiapkan semua peralatan dan property untuk perlombaan.  Malam harinya kami menginap di sekolah, tidur di tenda ya... walau banyak nyamuk tapi apa boleh buat Cuma tenda itu tempat yang layak huni. Saat itu aku belum bisatidur, lalu aku jalan jalan dan masuk ke sebuah kelas, aku kaget saat aku melihat tumpukan orang orang. Setelah ku mendekat ternyata Mereka semua adalah kakak kelasku,en tentunya laki laki semua. Saat itu aku berfikir, ahhaa... pasti ada si kaos coklat nih... lalu aku teliti satu persatu dan ADa!! Dia tidur di pojok, kasian banget!! Pengen banget aku nyelimutin dia terus ngasi ucapan selamat tidur. Sayang…. Sudah terlambat. (Eh Tau ga? Walaupun lagi tidur, tapi ciutnya ga ilang loh!)
*******
Keesokan harinya acarapun dimulai, meriah sekali apalagi ditambah dengan perlombaan senam pramuka antar SD. Aku menonton dari dalam tenda, kebetulan tenda itu terletak di samping panggung dan bersebelahan dengan ruang kantor, lalu alya masuk dan menemaniku.
“sendirian aja Nong” Tanya nya
“ya… begitulah”
“ih… meuni segitunya” ia mencubit hidungku lalu duduk disebelahku. kami pun larut dalam suasana pesta, sampai pada saat aku mendengar suara yang begitu aku kenal
“waih??” katanya, lalu ia membuka pintu tenda dan mengecek ada siapa saja di dalam. Aku kaget campur senang, tenyata si kaos coklat sebut saja ia BEZO, kenapa disebut bezo? Karena rambutnya yang jocong yang kaya orang kesetrum, eh ga nyambung yah?.
“ehheeeemmmmmmmm…” Alya berdehem panjang dan itu membuatku kembali tersadar dari lamunan. “tutup tuh mulutnya!! Entar ada laler masuk lagi”. tangan alya langsung mendarat dimulutku. “eehhh… keluar dulu yah! Takut ganggu!” sambung alya lalu ia Pergi entah kemana.
“hus… hus… Baguss…Kalo bisa jangan kesini lagi”.
“ga nonton?” Tanya bezo padaku lalu ia duduk di sampingku.
“nonton sih… tapi nontonnya dari sini!” jawabku, (ya ampun dia nanya dia nanya… rasanya pengen pingsan… GUBRRAAKKK…)
“ohh… diluar tenda yuk nontonnya, kalo di dalem ntar di sangka ngapangapain lagi!” ajaknya..
Dalam hati aku berkata “ga apa apa disangka ngapa ngapain juga”
Lalu ia melebarkan pintu tenda, Cuma cukup untuk kami berdua. “kan asik kalo liat dari sini, eh… ikutan lomba ga?” tanyanya
“ikut.. tapi ga tau jadi atau enggaknya” (sumapah… kalau ada stetoskop mungkin kalian bisa denger detak jantungku yang cepet banget, iramanya ngebeat ga karuan dag dig dug dag dug dug)….Inilah… inilah saat saat yang menurutku paling indah, romantic walaupun sebenernya enggak, dan tak akan terlupakan. Duduk di tenda Cuma berdua yaa... walaupun ada orang lain, tapi mereka Cuma ngontrak doang.
“mau ga?” dia menawarkan kuwaci
“mau banget!!” aku langsung menyantok kuwaci itu dari tangannya.Kami menikmati kuwaci bersama, kalau sama dia sih kuwaci serasa steak panggang yang kaya ada di restorant.
Tak sengaja ku cek susunan acara ternyata lomba menyanyi antar kelas akan di mulai setelah istirahat, dan tak lama kemudian ada yang melapor padaku kalau dari kelasku tak ada yang mewakilkan. Dan Yaahhh… mau gak mau aku berkorban demi kepentingan bersama, walaupun aku sebenarnya ga bisa nyanyi apalagi nyanyi berbahasa sunda tapi aku akan berusaha. dan ada satu masalah, penyanyinya harus memakai kebaya. Gawat wat wat wat… aku benci pake kebaya, apalagi pake samping, konde terus didandanin lagi… iihh… it’s so bad!!!!!!! Aku dipaksa dan akhirnya aku mau, masalah berikutnya adalah aku harus ke salon. I never go to salon before and then salah seorang guru yang tahu aku suka sama si Bezo itu, dia menyarankan agar orang yang mengantarkan aku ke salon adalah dia. Ya.. jelas itu membuatku semangat 45 “seraaanggg…”. Tanpa basa basi kita langsung ke parkiran dan pergi ke lokasi. 
Tau ga sih…. Aku tuh duduk dibelakangnya, aku mencium bau tubuhnya, aku melihat pundaknya, aku memandang rambutnya, sungguh… akan selalu ku kenang. Ingin rasanya ku memeluk erat tubuhnya saat itu, tapi aku sadar diri “ bukan MUHRIM bu!!”.
Tak terasa aku sudah  berada di tempat tujuan, mengapa saat seperti ini waktu cepat sekali berlalu. Lalu kami turun dan…
“astagfirullah…” kataku
“ada apa?” tannya nya heran
“kebayanya ketinggalan di sekolah” jawabku
“ya udah kita ambil” lalu ia memutarkan motor dan kembali menyalakanya
“ga papa kan? Jadi bolak balik neh..” Tanya ku setengah bersalah


Dia hanya tersenyum, lalu kami melesat seperti kilat. Ternyata Gusti Allah mengijinkan aku berada di dekatnya lebih lama lagi. Setelah sampai di sekolah tanpa basa basi lagi kami langsung mengambil barang yang ketinggalan tadi dan segera kembali ke salon.
“ mikuuuummm…” kami masuk kedalam salon
“eehh…. Si eneng, kenapa baru dateng sekarang? Yang lain mah udah dari tadi” Tanya sang tukang salon
“ngedadak ini juga, tadinya bukan diriku” jawabku lalu aku langsung duduk memandang cermin, dibelakangku aku melihat Zo duduk yang tanpa sengaja aku memergokinya sedang memandangk. (haayyoooo ketauan lagi curi pandang, haha... kena kau).
“eh… sama si Aa toh!” sahut si tukang salon, mereka saling mengenal kebetulan mereka tetanggaan.
Tanpa basa basi ia mendandaniku, memolesku dengan apa itu namanya aku tak tahu pokonya make up yang sering di pakai cewe cewe termasuk ibuku. Kalau sekedar lipstick dan bedak aku tahu, tapi sisanya maaf… jangan Tanya. Kemudian ia mulai menyasak rambutku, lumayan pendek tapi ga terlalu pendek.
“bisa gitu rambut pendek gini pake sanggul?” Tanya ku..
“apa sih yang ga bisa” jawabnya, “paling entar sanggulnya pake Lem trus di iket pake rafia biar ga jatoh” tambahnya
“haha…haha….” Bezo tertawa, aku tau ia tak bisa menahan rasa gelinya melihat rambutku yang acak acakan. “udah gitu aja gayanya!” sambungnya lagi.
“iya sih keren juga” jawabku “ gaya orang gila!!”
“ emang mau gayanya gini?” pertanyaan bego, lalu ia menilik nilik aku dan Zo melalui cermin, tepatnya seperti sedang memilih sayuran di pasar. “eh… Perasaan kalau di liat liat si Aa mirip yah” terang si tukang salon.
“ama siapa?” tahnya ku
“ya ama si eneng dong!, jadi kaya adik kakak” jawabnya tanpa memikirkan perasaanku
Aku menganga, Dalam hati aku berteriak “enak aja!!! gua mau jadi cewenya tau bukan adenya!!” tapi konon katanya yah… orang yang wajahnya mirip ama pacarnya, katanya jodoh. Katanya itu juga.
 “iya getu?” Tanya bezo sambil membandingkan aku dengannya melalui cermin.
“yupz… selesai” potong si tukang salon. “iihhh…. Meuni cantik!!” ujarnya menggoda.
Lalu aku menatap lekat lekat orang yang ada di cermin itu, Aku sungguh… hampir aku tak mengenal orang yang aku lihat di cermin itu, berbeda sekali dengan ku, apakah ini benar benar aku??. Aku jadi terkagum kagum dengan diriku sendiri, ternyata lumayan cantik juga sih… lalu aku melihat zo, dia hanya tersenyum. Lalu kami langsung ke tempat dimana aku harus berlomba.
“ngebut jangan?” tanyanya
“terserah” jawabku
“aku paling ga suka kalau jawabanya terserah”

“ya udah maaf deh, kalo gitu pelan aja, takut kondenya copot”
Tak lama kemudian kami sampai di tujuan, aku jadi tertawa sendiri melihat diriku, apalagi orang orang yang melihatku yang selau pakai asesoris cowo terus lihat aku kaya gini, hehe… perkataan mereka aneh aneh, ada yang kagum ada juga yang bilang “ada angin apa nih?” ada juga yang bilang “waahh… pasti nanti ujan gede” ahh… pokoknya mereka bilang yang aneh aneh deh (mmhh… baru tau yah kalo gua cantik??? Keemana aja lloo???). Lalu aku duduk di bangku peserta, aku kaget saat aku melihat alya juga duduk di bangku peserta, saingan berat neh… suara dia oke sangat, sedangkan aku? Pasti baru naik panggung juga udah di sorakin “ TURUN… TURUN… FALS…FALS…” bikin aku jadi nerfs aja. Akhirnya tiba giliranku menyanyi dan aku adalah peserta terakhir, waduh…. Kayaknya dunia mau runtuh, sungguh aku nerfes banget tanpa latihan sebelumnya, aku pasrah Bismillah…. Aku menengok ke arah Alya ia mengcungkan jempol padaku ia memberikan tanda bahwa aku pasti bisa, aku menengok ke anak anak genkku dan mereka melakukan hal yang sama. Maka…
“kantun jujuluk nu arum…. Kari wawangi nu seungit… nyebar mencar sa Pasundan.. nyambuang sa Nusantara… “
Alhamdulillah akhirnya aku selesai menyanikannya, aku mendengar sorakan dari para penonton entah sorakan kagum atau sorakan apa tanpa menghiraukan sorakan yang mereka berikan Aku langsung turun dan secepat kilat aku keruang ganti dan menyopot semua benda yang ada di kepalaku. Berat sekali…
(adduuhhh… ribet oge nya, apa lagi kalo entar kawinan pasti lebih ribet? )  sayup sayup ku dengar pengumuman pemenangnya sudah di umumkan, aku mendengar alya merupakan salah satu pemenangnya, dan aku sama sekali tak mendengar namaku di sebut.  Yaa… Ga papa deh… itung itung nyumbang suara sumbang. Setelah selesai ganti kostum aku kembali ke lokasi dan sibuk dengan tugas ku sebagai seksi Acara.
************
Bumi selalu berputar pada porosnya, bumi pula berputar mengelilingi matahari seperti biasanya, mungkin yang berbeda adalah waktu yang terasa cepat berlalu, tak terasa sudah berganti bulan. Masa jabatan OSIS yang lama pun sudah berakhir, tiba saatnya untuk mencari anggota OSIS yang baru,  sebenarnya aku malas sekali untuk menjadi salah satu anggota OSIS, tapi… seperti kebiasaan, tak ada yang mau menjadi perwakilan kelas. Setelah di paksa paksa akhirnya keputusanya adalah aku, Tita dan Ani menjadi perwakilan dari kelasku. Hari pertama yaitu tes tulis, sebenarnya soal tesnya gampang tapi karena aku sedang malas jadi aku isi asal asalan. Cuma anehnya… kenapa aku malah masuk ke babak selanjutnya? Benci! Tes demi tes aku lewati dan aku lolos audisi, ani dan satu lagi teman cowoku. Kami bertiga lolos pada babak final. Kami diberi kesempatan satu hari untuk kampanye lalu besoknya langsung pemilihan umum, lucu juga… seperti mau milih presiden aja. Walau memang aku gak mau jadi anggota osis tapi akhirnya aku merasa tertantang juga.
******
Si jalu, ayam jago ayahku sudah berkokok dari subuh tadi, tapi suaranya tak membuatku terbangun.
“heh… bangun, udah siang” sahut ibuku, tak lama kemudian ia menggoyang goyangkan tubuhku.
“hhhmmmm……” aku berbalik arah dan menutup telingaku dengan bantal.

Ia mencubit pahaku “aaaaawwwwwwwwww….!!!!!!” Teriaku kencang, aku langsung terbangun, mataku langsung melek dan semua mimpiku tadi pergi entah kemana. “sakit tau mim!!!”
“tuh liat jam berapa??” marahnya
Aku melirik jam di dinding, “setengah tujuh!” “gaswat…darurat…siaga empat…!!!” aku langsung mengambil handuk dan Mandi, karena terburu buru.. aku mandi pakai gaya ke tiga versi Ceya yaitu ambil satu gayung air, dan byuuurrr… selesai. (Ssstttttt………… tapi jangan bilang sapa sapa ya!). Setelah itu aku memakai pakaian yang rapi dan cabut ke sekolah.
Sesampainya disana aku langsung di giring oleh seniorku untuk duduk dipodium sampai acara pemilihan umun yang tak jujur dan tak bebas tapi lumayan adil. Kemudian… setelah semua murid berkumpul di halaman, mereka di perkenankan untuk mencoblos kandidat yang mereka pilih. Cara pencoblosannya mirip seperti PEMILU Presiden, pakai kotak suara, pakai tinta dan pakai kartu suara yang bergambar dan pakai orang belakang juga loh! tapi jujur aku dan Ani tak pakai ilmu hitam kaya gituan. (kita mah santet euy maenanya… hahha…. Boong ketang)
Setelah selesai semua, akhirnya pengitungan suara pun dimulai. Sepertinya orang yang memilihku dan Ani adalah orang yang berpendirian tetap dan tak dapat dihasut orang lain, Cuma orang yang seperti itu sangat sedikit sekali. Dan hasilnya adalah:
1.    Ketua OSIS baru sebut saja Arka
2.    Wakil Ketua OSIS  baru, AKu
3.    Sekertaris OSIS, Ani
4.    Hasil yang lumayan bagus, tapi aku merasakan firasat buruk akan terjadi. Arka bukan tipe orang yang bertanggung jawab. Tapi.. mudah mudahan saja itu salah.
Data barang yang harus dibawa :
1.    Seragam PLH
2.    kaos kaki satu hitam satu putih
3.    Sabuk terbuat dari tutup botol
4.    Untuk Topi, pakai tempat nasi yang kecil dan di gantungkan 16 buah kacang panjang
5.    Untuk kalung, gantungkan terong, cabe, kerupuk dan pete.
6.    Bawa jeruk Uganda
“Gila… ini LDK OSIS atau jualan??”, kataku.
Akhirnya kami para Junior sepakat untuk membeli dan mencari peralatan yang kami butuhkan bersama sama. Kami sepakat untuk berkumpul di salahsatu pusat pertokon terdekat dan tempat itu lumayan ramai. Kami membeli bahan yang dibutuhkan seperti apa yang sudah tercatat. Tapi… tugas untuk memakai sabuk dari tutup botol… susah sekali mendapatkan benda itu dalam jumlah banyak. Kami harus mencarinya dari warung ke warung, sungguh kami seperti pengemis dan pemulung, bahkan kami sengaja membeli FANTA dan COCA COLA agar kami mendapat tutup tambahan, sampai sampai kami sengaja menunggu orang lain menghabiskan minumanya dan mengambil tutup botolnya. Tapi semua yang kami peroleh masih belum cukup, saat kami asik mencungkil cungkil tutup botol yang sudah menyatu dengan tanah yang ada di pinggir jalan, tiba tiba hujan turun… (aaaahhhh... mana ujan ga da ojek... becek!!)
“kepalang tanggung, lanjut aja!!” kata anak anak. Lalu mereka melanjutkan aktivitasnya kembali.
Aku mulai kedinginan, hujannya sungguh lebat. “anjing… dasar senior sialan!!” (Bagai mana ga kesel, ngasi tugas yang gila kaya gitu, apa lagi kita ampe keujanan kaya gini. Ini baru awal… gimana beso besok coba? Pasti lebih parah).

“cih… kalo bukan senior udah di gibas da!” sambung anak yang lain.
*********************
“Satu…… dua………….ttii…………gaaa…………” hitung salah satu senior yang mengomande kami untuk cepat berbaris.
“kalian lambat! Cepat ambil posisi!!” teriak senior lain.
Lalu kami mengambil posisi (paket hadiah nomor empat),, laki laki push up dan kaum wanita seperti aku melakukan scout jump.
“satu… dua…. Tiga… empat… lima….. enam setengah….” Senior itu tak melanjutkan hitungannya lagi
Aku sudah tak kuat menahan, lututku pegal sekali. Sepertinya kalau lima menit saja dibiarkan seperti ini, aku pasti pingsan. sempat aku lihat teman temanku, aku melihat mereka mulai gemetar, pasti mereka merasakan hal yang sama seperti ku.
“tujuh…..” lanjutnya
“fuuiiihhh…….” Lega rasanya…
“delapan…. Sembilan….. sepuluh! Selesai. Sekarang kalian boleh masuk!” perintah senior yang sejak tadi terlihat asik menghukum kami.
Kami di dalam sebuah ruangan sekarang, tak ada kursi tak ada meja hanya ada mic dan tipe. Sebelum acara dimulai, kami harus mengumpulkan jeruk yang katanya Uganda itu, yang aku pikirkan adalah jeruk yang berwarna hitam, tapi ternyata aku salah, jeruk itu hanya jeruk biasa yang bertuliskan “U2” alias U ganda.
“apa ini?” Tanya senior
“jeruk Uganda” jawabku datar
“bodoh… kenapa jeruknya berwarna hitam?” sentaknya
“Uganda kan…”
“sudah… “ ia memotong pembicaraanku. “kamu, sapu semua halaman depan!” perintahnya.
Aku segera keluar, tak apa asal aku tak ada di dalam, setelah ku keluar. Gillaaa…. Pembunuhan, aku lupa kalau halaman sekolah ku luas dan… iuh iuh iuh kotor sekali. tapi aku mulai mengambil sapu dan memutuskan untuk menyapunya. Ku lihat teman temanku juga ada yang di hukum, tapi tak seberat hukumanku. (kayaknya yang ngehukum gue punya dendam pribadi neh!)
 “yang bersih…!!!” teriak salah satu senior. Aku menoleh, dan ZO! Dia? aku lihat ia tersenyum, aku tak tahu apa arti senyum itu. Lalu alya keluar ruangan, ia mendekati Zo.
“yang bersih ya, De!” teriak alya sok jadi senior. Sebenarnya alya tahu kalau aku tak bisa menyapu, jadi dia meledekku.
Aku mengacungkan jari manisku padanya “beres….” Kataku.
****************


Benarkah yang ku lihat ini? Nyatakah apa yang ada di hadapan ku ini? Tolong… seseorang tolong sadarkan aku…. Seseorang tolong…. Tolong…. Katakan bahwa apa yang aku lihat ini tidak benar”. tubuhku lemas… ku sandarkan tubuhku pada Tita, sepertinya ia tahu apa yang aku rasakan. Ia menutup mataku. Namun kami tetap berada disitu di teras depan kelas.
“jangan di lihat!” katanya berusaha untuk menenangkan perasaanku.
“dari kemaren loh, ta!” terangku
Tita hanya diam, lalu ia membawaku ke dalam kelas, aku mulai menangis…
“hei… cheya, lu jangan nangis gitu dong…” rajuknya. ia menghapus air mataku.
“ada apa sebenarnya Zo dengan wanita itu?” tannyaku…
Aku masih dapat melihat Zo yang sedang bercanda mesra dengan salah satu senior yang jujur memang aku juga tak suka dengan wanita itu. Walau sudah terhalangi oleh tubuh tita dan Ani, aku masih melihat Mereka sangat mesra, aku melihatnya Zo… Zo mengajarkannya bermain gitar, oohhh…. Yang membuatku perih, ia mengajarkanya sambil seolah olah ia memeluknya (aaahhh... jelouse neehhh!!).
“tenang… mungkin dia hanya ngajarin gitar doaang!” larai Ani mencoba agar aku tenang.
“mungkin” jawabku. Apakah arti dari ini semua? Mengapa Zo tiba tiba bermesraan dengan orang lain sedangkan ia masih dalam status PDKT dengan ku? Sudah selama dua hari ini dia bermesraan dengan wanita sialan itu.
“ehh….. disuruh kumpul” tiba tiba ada anak junior lain masuk dan ia mengaburkan lamunanku.
“oohhh….” Jawab kami datar. Lalu kami segera berkumpul.
********
Sekarang kami sedang berjalan dari pos dua hendak ke pos tiga, kebetulan aku baris pada shaf paling depan. Maklum ketua regu. Pos pertama dan pos dua ku anggap masih biasa biasa saja, walaupun sentakan para senior lumayan garang dan nonjok ke hati, bikin kuping budek aja. Sekitar 30 meter dari lokasi pos tiga aku membariskan lagi anak buahku.
“ Siap, gerak! Rencang depan, grak!!!” perintahku, lalu mereka berbaris dan meluruskan barisan. “ tegak grak!!!.... langkah tegak majuuuu… jalan!!”
“ brak… brak… brak….” Suara langkah kaki kami terdengar kencang, sengaja supaya mereka tahu kedatangan kami.
“ berhentiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii…………………….. graakkk!!” teriakku dan..
“brak….brak…” suara langkah kami terhenti,
“ luruskan….” Komando ku lagi. Setelah itu aku melapor kepada senior yang berada di pos itu, laporan kami di terima, lalu aku kembali ke barisanku. Lokasinya berada di sebuah kebun yang sangat luas dan hanya ada satu rumah disitu.
“kalian cinta tanah air???” Tanya senior tiba tiba.
“…………………………” kami diam tak ada yang berani menjawab
“ kalian cinta tanah air???” tannta nya lebih kencang

Lalu aku memberanikan diri menjawab, “ siap, YA!!” kataku pelan. Lalu senior itu mendekati ku dan 10 cm berada di depan wajahku.
“apa?? Saya ga denger!!” teriaknya, sungguh membuat jantungku mau copot
“ SIAP YAAA!!!” teriakku tak mau kalah, dia kaget dan mundur satu langkah dariku. (rasain loh, emang lo aja yang bisa nyentak).
“baguss…… kalau begitu, cium tanah!! Cepaaaattttttttt……….” Perintahnya
Terpaksa aku jongkok, sujud dan sssaaahhhhhhhhhh…. Ku cium tanah yang…. “iiuuhhh…. Iuuhh….. menjijikan! Siapa yang tau kalau ini tanah bekas ee ayam atau ee kambing,
“lalu…. Kalian!!” senior itu menyentak anak buahku. “kalian tidak cinta pada tanah air?” mereka masih diam
“ambil posisi….!!” Hardriknya “mulai….”.
Dasar senior, menjawab salah…. Tidak menjawab salah… apa maunya mereka. Sedangkan bibirku sudah gatal, ku lihat anak buahku sudah mulai kelelahan tapi mereka belum menghentikan kami.
Tiba tiba “berdiri semuaaa…” teriak senior lain. Ia mulai menceramahi kami…. Entah apa yang ia katakan, cih… malas aku mendengarnya. Setelah panjaaaaang… lebaaaarrrr… dan sampai mulut senior itu berbusa, akhirnya perjalanan kami di pos itu selesai juga.
Kami melanjutkan perjalanan kami ke pos pos berikutnya, tanpa istirahat, tanpa minum… sungguh kejaaaammmm…… Pos empat materi tentang seni, pos lima materi tentang kemampuan kami, pos enam tentang pemecahan suatu masalah dan tiba lah kami di pos tujuh… mungkin itu pos terakhir.
20 meter sebelum lokasi, senior itu menyuruhkami berlari… namun dalam hitungan tiga kami belum selesai berbaris, dan yah… tau lah… minimal paket hadiah nomor 3 yaitu scout jump 10 kali.Seperti biasa aku membariskan anak buahku, melapor dan siap menerima materi. Saat aku melapor aku kaget, semua senior yang dari pos satu dua tiga empat dan lima, mereka berkumpul disini. Itu berarti anak anak yang lain sudah berada di pos enam dan disini juga sudah ada 2 kelompok lain. Perasaanku sudai mulai tak enak. Apalagi setelah aku melihat mereka, yaa…. Mereka, kau tahu siapa? Yaa…. Zo dan wanita itu, mereka… sungguh sangat dan amat sengaja beradegan mesra di depanku. (“lo pikir ini tempat pacaran hah!?”). Ia menangkap basah aku sedang melihatnya, tapi… ia malah sengaja beracting lebih mesra. “yaaa…. Allah…. Yaaa.. rabb… jika memang benar apa yang aku lihat ini, maka kuatkan lah hatiku, kuatkan aku… kuatkan aku… jangan biarkan aku menangis…” doaku dalam hati.
“kamu…..” sentak senior
aku terperanjat, aku mengangkat wajahku…
“di bawah tak ada uang!!” sentaknya. ia tahu sejak tadi aku menunduk, (kenapa sih dari pos pertama ampe pos terakhir selalu aja gua yang paling kena sentak, kena marah, kena hukuman??? Gak adiilllll)
Mataku mulai memanas, tubuhku mulai lemas… Aku tahu senior itu tengah memarahiku, tapi aku tak menghiraukannya.


Sehitam itukah hatimu? Hingga kau sengaja menusuk ku, lalu memerah darahku tuk mewarnai kanvasmu? Kenapa? Kau biarkan aku begitu berdarah… sedangkan kau, kau melukis kebahagiaan dengan darahku. Kau tak perlu berbuat seperti itu, Zoo… cukup bilang saja bahwa kau benci aku.
 Entah mengapa aku tak kuat menahan tangisku… tangisku semakin mejadi jadi… semuanya kabur… gelap… aku terjatuh… tidak… aku sengaja menjatuhkan tubuhku, biar lah,,, biarkan orang memganggapku seperti pecundang yang kabur sebelum perang. Lalu semua orang berusaha mengangkat tubuhku, tapi aku melepaskan semua genggaman mereka, lalu zo.. mendekatiku, mencoba memapahku… ku tepis tangannya. (enak aja loohh... tapi lo puas kan??)
aku tetap menangis, menangisi kekalahanku… menangisi kemalanganku… menangisi cintaku… cintanya yang tak mau menghampiriku.
*******
Malam ini merupakan malam terakhir kami menjalani LDK OSIS, kami dibangunkan tengah malam kurang lebih jam 12 teng teng teng kami sudah berbaris, katanya sih acara apa yah… ya gitu lah!. Kami di bagi menjadi beberapa kelompok dan setiap kelompok terdiri dari tiga orang.  Katanya supaya mata kami melek, kami di kasi makam PARE, tau pare? Yupz Paria yang rasanya pait bukan main. Aku sih… enjoy aja b’coz that It’s my favorite vegetable. Tapi yang lain kasian… pada muntah… (hehe… kacian de lu)
Stelah itu kami mulai di berangkatkan, kebetulan kelompok tita kloter pertama dan kelompokku kloter ke dua, lima menit setelah keberangkatan, tiba tiba hujan lebat…. Hujan hebaaat… haturnuhun gusti,,,, thanks God, it’s why I love my God. Thanks very much my lord engkau berpihak pada kami.
Lalu kami di tarik kembali, acara dibatalkan. Lalu kami di kumpulkan dalam satu ruangan, yang hanya di sinari oleh lilin… karena malam itu mati lampu. Aku sengaja mengambil tempat paling belakang, aku masih dalam kondisi perbaikan hati jadi aku tak mau melihat lagi adegan adegan menyakitkan yang mereka tampilkan didepanku.
Kami di beri renungan… mulanya renungan itu tak membuatku menangis tapi lama kelamaan aku mulai menangis… tangisku lebih kencang kali ini. Maaf bukan karena renungannya tapi karena si Zo yang kurang ajar yang lagi lagi bersandiwara beradegan mesra di sampingku, bayangkan dia satu meter berada di sampingku. Mulanya aku tak tahu kalau itu dia, karena pada saat itu gelap setelah ia menyalakan lilin ternyata aku tahu bahwa itu adalah dia. Aku berpindah tempat… aku kedepan, aku berada di samping ayu sekarang, aku bersandar padanya… lalu ia mengelus kepalaku…
“kenapa?” tannyanya
“nggak…” jawabku… tapi aku tak bisa berbohong, biarkan aku menangis dulu…
**********
“nong…… sabar yah…!!” aku tahu alya sangat khawatir padaku, aku tahu ia merasa bersalah karna sebelumnya dia lah yang telah menyomblangkan aku
“kesel banget, nyeng… masa dia mesra mesraan di dekat gua!”
“emang sialan tuh cowo. Entar gua kasi perhitungan”

“yang gua keselin, kalo dia emang gak suka ma gua, kenapa dulu dia ngasi harepan ke gua” aku mulai curhat. “eh… sekarang tau taunya dia malah deket ama orang lain dan orang itu adalah orang yang lumanyan gua benci” lanjutku.
“udahh… sekarang tenang dulu, biar gua tanyain biar semuanya jelas, sekarang lu upacara dulu gih…”
Lalu aku beranjak dari tempat dudukku, aku mendatangi anak anak yang sudah dari tadi berada di lapangan upacara, tak lama kemudian upacara penutupan pun dimulai.
Stelah upacara selesai semua senior member selamat pada kami… kami saling salaman satu sama lain, dan mungkin kali itu lah… salaman terakhirku dengan Zo.
************
Malamnya aku sengaja main ke rumah alya lagi pula rumahnya tak jauh dari rumahku. Aku ingin tahu apakah ia sudah mendapatkan kabar itu atau belum.
“nyeng… gimana?” aku memulai pembicaraan
“gimana apanya??” jawaban bodohnya yang pura pura tak tahu.. lalu aku mengerutkan dahiku dan memonyongkan bibirku. “iya… iya… begini ceritanya” ia memutar haluan dan menghadap padaku.
“tapi sebelumnya gua gak mau liat sahabat gua kaya gini terus, gua udah lama ga liat lu senyum”
“udahlah… kondisinya sekarang udah beda”
“oke deh… tapi jangan marah ya!, gua dapet info kalo sebenerbya dia tuh kerja sama buat manas-manasin lu” jelasnya
 “maksudnya?”
“dia gak suka ama cewe tomboy…   jadi dia sengaja kerjasama ama itu cewe en bikin sandiwara gitu, supaya lu jauh dari dia, Cuma ada gosip katanya mereka berdua emang saling suka gitu.”
Praanggg.... (tau kan piring pecah? Yaa kurang lebih like that) hatiku hancur…
 “ ga suka cewe tomboy” kenapa? Apa ada masalah dengan aku? Aku juga manusia… aku punya perasaan, aku juga punya cinta… apa salah cewe tomboy punya cinta? Apakah aku sebuah mainan? Bila ada yang baru lalu aku yang lama ditinggalkan. Apakah aku sebuah permen karet? Yang habis manisnya terus dibuang?. Apa aku kurang cantik jadi aku ditelantarkan? Apa karena aku manusia jadi jadian lalu di acuhkan? Aku mengenang semua yang telah kami lakukan, tapi tak ada tanda tanda dia menolaku? Atau aku saja yang tak tahu? Mungkin saja dari awal dia sudah memberi sinyal negative padaku tapi aku tak menghiraukanya. Kenapa… kau baru melakukan ini setelah aku terlanjur cinta padanmu? Kenapa… kau baru melakukan ini setelah aku terlanjur cinta padanmu? Kenapa kau melakukan ini setelah satu langkah lagi kita jadian.
Aku masih terdiam…
 “nong……………………….??????”
Aku terdiam
“Noooooooonggg…????” panggil alya, tapi aku masih terdiam, lalu ia membalikan tubuhku yang sendari tadi membelakanginya. Ia menatap wajahku yang penuh dengan air.
   
“senyum dong……” suaranya mulai parau… ia menyeka air mataku lalu ia melebarkan bibirku “senyum dong…” suaranya semakin parau, ia menangis… ia selalu menangis jika melihatku menangis…!!. Dia tetap berusaha melebarkan bibirku, walau ia tahu aku tak bisa senyum kali ini. “senyum nong!!” ia mulai mengeraskan suaranya. “nong… jangan nangis!!”
berkali kali ia menyeka air mataku, ingin sekali aku memberi senyuman paling indah untuk sahabatku itu, tapi aku tak bisa, aku tak ingat caranya untuk senyum! Maafkan aku nyeng… aku telah membuatmu menagis.
Ku paksakan bibirku tersenyum… lalu aku tertawa… sedetik kemudian aku menangis… aku memeluknya… ia memeluku lebih erat.
Kami tak mengatakan sepatah kata pun…
**********
Ku mulai hari hariku yang baru, aku resmi jadi seorang Wakil Ketua OSIS sekarang… dan benar saja dugaanku dulu, ternyata Si Arka lepas tanggung jawab ia meninggalkan jabatanya sebagai Ketua OSIS, tapi aku bersyukur mendapatkan anak buah yang sangat setia padaku. Aku dan Gengku kini sudah menjadi penguasa tunggal sekolah, karena semua Ekskul pasti kami yang mengetuai.
Tapi, sampai kini…
Aku masih tetap mencintainya walau ia tak mencintaiku
Aku masih tetap merindukanya walau ia tak merindukanku
Aku masih tetap mengingatnya walau ia tak mengingatku
Dan
Aku masih tetap membencinya
Seperti ia membenciku.


To be continuo

- Copyright © Nurhadi Prayogi - Powered by Blogger - Designed by Nurhadi Prayogi -