Posted by : Nurhadi Prayogi 21 April 2012


Bulan Muharram memiliki kenangan tersendiri diri bagi saya sendiri dan teman-teman seangkatan. Salah satu episode kehidupan yang memberikan banyak pelajaran kepada pribadi ini. Pahit memang menjalaninya namun terasa nikmat buahnya kala kita mau merenunginya. Seribu terima kasihku kepada Allah Ta’ala atas segala scenario terbaiknya, kemudian kepada segenap asatidzah yang memiliki ide cemerlang untuk mengadakan acara yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Satu kegiatan sederhana namun memberikan sejuta pelajaran yang penuh hikmah di dunia kehidupan selanjutnya. Sepuluh jempol untuk mereka semua.
Pagi itu adalah hari jum’at, yang bertepatan dengan tanggal 9 Muharram. Dan mulai hari mulia yang penuh berkah itulah aku beserta teman-teman berjuang melaksanakan misi yang harus kami lalui bersama. Semua dipencar ke seluruh wilayah sekitar lembaga pendidikan yang kami tempati. Perjuangan itu harus mencatatkan hasil survey yang maksimal; dengan menuliskan jumlah rumah ibadah baik  masjid maupun gereja, rumah sakit, tempat penjaga keamanan (baik tingkatan RT/RW atau kantor kepolisian), mendata prosentase ihwal masyarakat setempat, baik dari segi ideologi yang ada, partai yang dianut dan tantangan dakwah yang ada serta cakupan wilayah daerah tersebut.
Di samping itu, masih ada misi lain yang juga tak kalah pentingnya, mencari sesuap nasi dengan hasil tangan sendiri. Itulah, kata Nabi Muhammad, sebaik-baik penghasilan seorang hamba. Syarat pencarian maisyah ini cukup ketat; tidak boleh membawa hp, uang, atm atau apapun yang bisa dijual dan diuangkan, tidak boleh mengemis, mengamen dan menemui orang-orang yang dikenal dengan baik. Semuanya terasa semakin lengkap karena tidak diperkenankan untuk saling bercakap-cakap dengan sesama teman bila nanti bertemu di jalan, atau dengan kata lain, tidak boleh ada komunikasi. Semua harus mencari alternatif sendiri-sendiri.
Semua perjuangan itu dimulai pada hari Jum’at, 9 Muharram. Tepat pukul 06.00, kami bersama teman-teman diperiksa oleh ustadz untuk memastikan bahwa kami telah melengkapi persyaratan acara itu. Tidak membawa apa-apa kecuali hanya tas dan pakaian seperlunya saja.
Singkat cerita, aku bersama beberapa rekan mendapatkan tempat cukup menantang, daerah yang berada dekat terminal dan banyak preman, kata teman-teman. Tempat itu terasa asing bagiku karena memang sebelumnya tidak pernah ke sini. Ketika tiba tempat tujuan, aku mendatangi tukang becak yang kebetulan berada di daerah yang akan aku jadikan observasi. Untuk mengawali pembicaraan itu, aku bertanya nama, berapa tahun bapak itu menggeluti pekerjaannya sekarang dan kondisi keluarganya.
Setelah selesai, aku rasa sudah saatnya mencari informasi berkaitan dengan kondisi daerah ini. Tukang becak yang memiliki nama pak rebo itu secara jelas menunjukkan tempat-tempat strategis yang harus aku survey. Karena penasaran dan tidak biasa, bapak itu menanyakan maksud dari pertanyaan yang aku utarakan.
Untuk menenangkan dan tidak menimbulkan kecurigaan, aku menjawab, “Sekarang ini, kami bersama rekan-rekan mendata wilayah-wilayah daerah sekitar sini dengan harapan, untuk mendapat informasi lengkap sehingga untuk tahun ke depannya nanti mungkin bisa jadi kami mengembangkan dakwah di daerah ini.” Alhamdulillah, kecurigaan itu sudah terjawab dan memuaskan sehingga bapak itu tidak bertanya lebih jauh lagi.
Satu pelajaran penting yang aku dapatkan dari percakapan pagi itu adalah beratnya perjuangan bapak itu dalam menghidupi keluarga. Katanya, penghasilan yang ia dapatkan tidak menentu. Kadang cuma mendapat dua-tiga-empat penumpang, bahkan pernah –dan sering- tidak mendapatkan penumpang sama sekali. Sehingga dengan berat hati, ia pulang dengan tanpa membawa hasil apa-apa padahal istri dan anak-anak sudah sedari tadi menunggunya. “Tetapi bagaimana lagi” katanya dengan mata berkaca-kaca, “Saya sudah berusaha datang ke sini pagi-pagi dan menanti penumpang, namun sampai malam kadang tak kunjung datang.” Aku ikut merasakan sedikit banyak perjuangan bapak yang wajahnya sudah berkeriput ini dan berusia sekitar 50 tahunan lebih. Dan serasa mendapat teguran halus, “Begitulah penderitaan seorang yang belum tentu mendapatkan sesuap nasi di hari-hari yang ia lalui.”
***Aku jadi teringat perkataan seorang teman ketika kami naik sepeda motor berboncengan. Ketika melihat seorang ibu-ibu yang membawa kayu bakar di tengah teriknya matahari di siang hari, temanku berkata mengingatkan, “Setiap kali aku melihat seorang ibu atau ayah yang bekerja seperti itu, aku membayangkan bahwa ia adalah ibu atau ayahku. Aku menganggap bahwa ia juga adalah ibuku.” Deg. Terasa ditampar hatiku mendengar perkataan yang mengingatkan ibu dan ayah. Yah, mungkin beda profesi, namun setidaknya bukankah pengorbanan waktu, keringat dan darah yang mereka keluarkan bisa jadi sama. Mereka melakukan itu semua itu demi kita, anaknya. Hanya renungan yang bisa aku lakukan ketika mengingat kata-katanya. Seakan ingin ku peluk temanku tadi. Ia telah menyadarkanku dan memberi pelajaran yang tak pernah ku sangka sebelumnya. Sungguh sangat berharga. Terima kasih sobat, barakallahu fiik….***
Aku menjadi terharu dan merasakan beban berat yang sekarang  diemban oleh bapak rebo. Perjuangan menjemput rizki Allah tanpa pernah tahu berapa banyak yang ia dapatkan untuk menghidupi keluarganya. Lebih terharu lagi, ketika bapak tersebut menawari aku makan, namun sehalus mungkin aku menolaknya. Ah, jadi malu. Bapak sendiri pagi ini belum tentu sudah makan, tapi sekarang malah menawarkan makan untukku. Inilah sisi kemanusiaan yang jarang dimiliki oleh orang kaya. Kepekaan orang miskin terkadang melampaui dan mengalahkan kepeduliaan orang-orang yang bergelimang harta. Bahkan, tidak sedikit orang yang rela membaktikan dirinya untuk membantu orang-orang miskin adalah orang yang tidak begitu bergelimang harta. Karena ia merasakan sebagaimana apa yang mereka rasa. Terima kasih pak, ucapku sebagai bentuk terima kasihku atas semua informasinya. Engkau memberikan pelajaran berharga pagi itu. Semoga Allah memudahkan urusanmu pak…..
Setelah mendapat informasi yang dirasa lengkap, aku mulai menjalankan misi yang dibebankan di pundakku; mendata masjid, gereja, rumah sakit dan yang lainnya. Setelah beberapa jam mendata wilayah sekitarnya, aku istirahat sejenak di sebuah masjid sembari menunggu shalat jum’at. Karena kelelahan yang melanda, aku tidak fokus memahami isi khotbah yang disampaikan jum’at itu. Astaghfirullahal ‘Azhim…
Selesai melaksanakan shalat jum’at, ku ayuhkan sepedaku mencari pekerjaan demi mendapatkan sesuap nasi.  Entah mengapa, kepercayaan diriku begitu tinggi sehingga tidak ada malu menawarkan diri bekerja di tempat yang aku temui.
Pertama; masuk sebuah hotel dengan menawarkan diri menjadi karyawan kebersihan. Tentu saja ditolak karena kuota karyawan sudah mencukupi dan tidak membutuhkan tambahan lagi. Kedua; masuk ke warung ayam bakar, dan hasilnya sama, ditolak. Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamien, mungkin bukan rizkiku. Ku mencari lagi, mencari warung makan yang lain, namun malang nian, karena memang bukan rizkiku di siang ini, aku tidak diterima lagi. Astaghfirullah. Sudah mulai mengendur semangat ini.
Untuk merehatkan hati dan fikiran, aku istirahat sejenak di masjid. Di masjid ini, ku bertemu seorang pemuda bersahaja yang hanya memakai sepeda ‘ontel’ namun sebetulnya ia seorang pemuda tajir yang memiliki mobil. Ia juga mampu membiayai kuliahnya sendiri dan kuliah adik-adiknya yang masih belum selesai. Ku semakin salut sama pemuda ini ketika dia mengatakan bahwa ia sebenarnya alumni sebuah pesantren. Pesan yang aku dapat percakapan kami pada saat itu adalah ada kekhawatiran yang beliau amati dari perjalanan manusia pada hari ini. Orang ma’had selalu identik dengan orientasi akheratnya yang lebih kental dan orang non ma’had diidentikkan dengan pencari dunia yang fatamorgana, padahal bila  ilmu mereka bisa dikolaborasikan, mereka akan menjadi pribadi yang tidak hanya mempersiapkan akheratnya semata tapi juga tidak melupakan dunia. Karena, dunia adalah jembatan yang memudahkan kita meraih banyak kebaikan bila kita kaya….
Alhamdulillah dapat ilmu baru lagi, yang sebelumnya belum pernah terdetik dalam diri ini dan belum tersampaikan dalam bangku sekolah yang selama ini aku duduki. Puji syukur pada-Mu ya Allah.
Tak terasa, adzan Ashar sudah berkumandang. Selesai shalat Ashar, ku berbincang-bincang dengan imam masjid. Ketika ku tanya perihal sedikitnya masyarakat yang shalat jamaah, ia menjawab bahwa itulah gambaran realitas kaum muslimin pada hari ini. Katanya lagi, banyak hari ini yang memiliki kapasitas ilmu dunia yang tinggi hingga ia disebut intelektual, namun karena dangkalnya ilmu dien yang dimiliki, ia justru menjadi pribadi yang memiliki mental busuk, akhlak yang bejat dan hanya mementingkan kepentingan dunia yang hanya nikmat sesaat. Tak lupa, ia berpesan kepadaku untuk banyak memperbakali diri dengan ilmu syar’I agar tidak menjadi pribadi yang tinggi ilmu dunianya namun dangkal ilmu diennya. Aku mengangguk-anggukkan kepala sembari mengucapkan terima kasih atas nasehatnya. Puji syukur padamu ya Allah…Engkau pertemukan aku dengan orang-orang yang mau berbagi ilmu yang ia miliki dengan hamba-Mu yang lemah ini. Engkau sebaik-baik pembuat skenario kehidupan ini sehingga Engkau pertemukan aku dengan mereka berdua sehingga aku mendapatkan pelajaran yang sangat-sangat berharga…
Kembali aku teringat misiku yang belum jua berhasil, mendapatkan pekerjaan demi mendapat sesuap nasi. Aku mengakhiri perbincanganku dengan imam masjid itu dan ia mengingatkan bahwa nanti malam akan ada pengajian. Aku mengucapkan terima kasih dan salam. Aku kembali mencari-cari pekerjaan. Hingga mataku tertuju pada tempat yang biasa berdagang malam hari. Ku menawarkan diri untuk membantu di  warung makan, tempat pembuatan roti bakar, tempat pencucian mobil, warung penjual susu sapi asli boyolali dan warung lesehan untuk wedangan. Hanya ada satu kata untuk semua usahaku itu; ditolak. Ada kesedihan dan keputusasaan yang terasa menyakitkan. Perasaan itu sedikit tertepis ketika ingat perkataan ustadz tadi malam yang memberikan training sekilas tentang apa yang akan kami dapatkan. Katanya, “Kalo mao nangis, nangiso.” (Kalau mau menangis, silahkan menangis). Jadi tersenyum sendiri ketika aku mengingatnya. Ah, ternyata kata-kata itu sekarang benar-benar  aku alami sendiri….
Namun sampai ke sekian kalinya, aku tidak menyerah. Kali ini, tempat menjual susu lain yang menjadi bidikanku. Menurut prediksi terkuatku, insya’Allah akan diterima karena ia bekerja sendirian dan perlu bantuan. Tapi, prediksiku tidak kena sasaran, ia tidak memperkankan dan tidak menerima bantuan. Ku bujuk lagi, namun ia tetap tidak mengizinkan dengan alasan nanti malam saudaranya akan datang membantu. Aku terpaku, seolah ingin limbung namun ku kuatkan kaki ini untuk tetap menginjak bumi. Ku memohon dengan iba dan terbata-bata hingga hampir tak kuasa ku mengucap kata-kata, namun ia tetap tidak bergeming dan merubah pernyataannya. Dan terakhir, terpaksa aku membuka ‘kartu as’ ku,
“Mas, saya mohon diperbolehkan ikut membantu di tempat ini. Saya rela membantu sampai tutup nanti. Dan terserah mau diberi apa nanti, saya akan menerima dengan lapang dada. Hanya untuk berbuka dan menghilangkan dahaga….” (sangat terpaksa aku memberitahukan dia bahwa aku tengah berpuasa).
Setelah aku berkata seperti itu, ia mengambil bungkusan makan malamnya dan menyodorkan, “Ini buat buka mas nanti. Tapi tidak usah bekerja di sini. Karena saudara saya nanti juga datang ke sini.”
“Maaf, saya tidak bisa menerima bungkusan nasi itu mas kalau tidak ada yang saya kerjakan. Terima kasih.” Kataku mengakhiri perbincangan itu dengan mata yang hampir menumpahkan air mata namun masih bisa ku tahan. Dan aku berusaha tetap tersenyum ketika berpamitan sembari mengucapkan salam. Ah, inikah lika-liku kehidupan itu….sekali lagi teringat kata-kata ustadzku, “Kalau mau nangis, nagiso…” sepuasnyo.
Dengan langkah gontai, ku ayunkan langkah ini menuju masjid terdekat untuk melaksanakan shalat Maghrib berjama’ah. Ku minum air ‘zam-zam’ masjid setempat di sela-sela ku berwudhu sebagai menu berbukaku. Ah, nikmat rasanya. Law ya’lamul muluk wa abna’ul muluk ma nahnu fihi minal laddzah la jaladuna bis suyuf (Kalau seandainya para raja dan putra mahkota mengetahui nikmat yang kami rasa, niscaya mereka akan menghunuskan pedang-pedang untuk merebutnya dari kami) …..Alhamdulillahi Rabbil Alamin, Dzhabad dhoma’ wabtallatil ‘uruq wa tsabbatal ajru, insya’Allah.
Setelah shalat Maghrib dan Isya’, ku sempatkan jalan-jalan sejenak melepas kepenatan. Tiada ide lagi untuk mencari pekerjaan kala malam sudah menjelang. Dan kurang lebih pukul 20.00, ku kembali ke masjid untuk istirahat. Melepas kepenatan di hari Jum’at yang melelahkan. Setelah berwudhu, ku rebahkan tubuhku di atas sarung yang sudah ku hamparkan. Seraya membayangkan, bagaimana ya dengan ke-24 teman-temanku yang tengah berjuang seperti aku? Ah, semoga saja mereka mendapatkan kondisi yang lebih baik dari apa yang aku alami saat ini. Ya Allah, mudahkanlah urusan teman-temanku.
Tidur di malam yang dingin dan hanya beralaskan kain sarung serta harus donor darah sama nyamuk membuat perasaan semakin nelangsa; teringat dengan orang yang tinggal nun jauh di sana, ibu dan ayah (ah, gombal. Ingatnya ketika susah saja ^_^). Membayangkan juga bagaimana perasaan mereka kalau melihat keadaanku seperti ini. Menyedihkan. Jadi teringat 9 tahun-an yang lalu, masa-masa ketika aku masih Mts dan tidur di langgar dulu. Malam itu sangat menyiksa karena mencret yang menyerangku. Aku pulang dengan menahan ‘cairan’ yang terasa menyiksa. Ku ketuk pintu rumah namun tak juga ada yang membukanya. Dengan kondisi menahan rasa sakit dan takut gelapnya tengah malam membuatku putus asa hingga aku menangis tersedu-sedu (ah, cengeng ya. Gitu aza nangis).
Sampai tetanggaku ada yang terbangun karena ulahku. Dengan baik hati, tetanggaku membantuku untuk membangunkan ibuku dari bilik kamarnya. Ibu keheranan dan bertanya, “Kenapa menangis? Aku menjawab, “Sakit perut ma.” Ibuku menenangkanku dan memintaku meminum obat sakit perut. Ajaib. Langsung sembuh dan aku bisa tidur nyenyak. Ternyata ku baru tahu, bahwa ada kasih sayang ibu pada malam itu. Sentuhannya membuatku merasa aman dan nyaman. Ah, jadi rindu sama ibu malam itu….., hingga tak terasa aku tidur terlelap karena tak kuasa menahan kantuk yang menyerangku. Tidur laiknya miskin papa yang tak memiliki apa-apa.
Di tengah malam aku terbangun. Tak tahu jam berapa waktu itu karena aku tidur di teras masjid dan tidak ada jam untuk mengetahui pukul berapa saat itu. Aku mengambil air wudhu dan berniat shaum dengan sahur air ‘zam-zam’ masjid. Alhamdulillahi rabbil alamin. Dan menyempatkan shalat witir tiga rakaat. Ada rasa malu ketika itu. Yaitu ketika terbesit keinginan mengadu kepada Allah perihal keadaanku. Bukan karena sombong, tidak membutuhkan pertolongan-Nya, namun karena aku masih mampu menahannya bila membayangkan orang-orang yang tidak berpunya dengan menahan lapar berhari-hari lamanya; bahkan terkadang harus memungut sisa-sisa makanan di sampah. Ah, aku malu pada-Mu ya Allah…., bila aku ingat dan meminta kepada-Mu ketika susah saja.
Baru sejenak merenung, tiba-tiba dari masjid lain adzan berkumandang. Selesai adzan, aku menunggu masjid yang aku tempati. Tapi aneh, hening….tidak ada yang keluar dan tidak ada yang mengumandangkan adzan. Masjid itu sepi dan gerbangnya dikunci lagi. Inisiatif pribadiku, shalat sunah kemudian shalat shubuh sendiri. Selesai shalat, ku lihat hari masih malam. Ku putuskan tidur lagi (aih malasnya…). Tetapi ada yang terulang kembali, adzan berkumandang lagi. Upss, berarti adzan pertama ketika aku shalat shubuh tadi adalah adzan untuk membangunkan orang-orang untuk shalat malam. Shalat shubuh lagi deh…
Di tengah badan yang lemas lantaran belum mendapatkan makan sehari lamanya menjadi termotifasi kembali ketika mendengarkan kultum pagi. Kultum itu ibarat oase di tengah hamparan padang sahara yang sangat menyejukkan. Pemateri menyampaikan agar kita selalu bersyukur kepada Allah karena Dia masih memperkenankan kita untuk hidup lagi di dunia, “Alhamdulillahil ladzi ahyana ba’da ma amatana wa ilaihin nusyur.” Nikmat bisa menghirup nafas lagi, nikmat diberi kesempatan untuk mengisi hari-hari yang dilalui dengan kebaikan, dan nikmat diberi kekuatan untuk menjalankan sebuah kewajiban, shalat berjama’ah. Serta nikmat iman yang masih ada di kandung badan. Semua nikmat itu harus kita syukuri karena tidak sedikit orang yang tidur –yang merupakan kematian kecil- namun ia tidak bangun lagi karena sudah mati, katanya. Syukur padamu ya Allah, Engkau sudi membagi rizki pada pagi hari ini berupa ilmu yang bermanfaat di kemudian hari nanti. Al-Hamdu was Syukru laka ya Rabbi….
Setelah kultum selesai, aku kembali teringat tugasku belum selesai. Berpagi-pagi mencari pekerjaan, siapa tahu ada yang membutuhkan tenagaku. Yah, walaupun sebagai tukang sapu. Berputar kesana-kemari, namun tak juga mendapat tempat yang layak. Ada satu masjid besar di situ dan halamannya kelihatan kotor karena dedaunan yang berguguran, namun ketika bertanya kepada salah seorang bagian kebersihan tentang peluang membantu. Ia menjawab, “Maaf mas, di sini pekerjanya sudah banyak. Teman-teman sekarang masih pada tidur. Sebentar lagi mereka bangun dan membantu membersihkan halaman ini.” Gagal maning…gagal maning….
Karena gagal, ku memutuskan untuk melanjutkan misi pertamaku; kembali mencari data-data yang belum terlengkapi. Setelah di rasa cukup, ku melanjutkan misi lainnya; kali ini bukan mencari nasi lagi, tapi uang. Harus mendapatkan rizki. Karena aku sudah tidak membutuhkan nasi lagi karena nanti sore sudah ada jaminan mendapatkan rizki karena sudah bisa kembali ke tempat aku menempuh ilmu syar’i. karenanya, perjalanan pada hari kedua ini tidak seru sebagaimana hari pertama.
Pengembaraan hari kedua ini dimulai dari waktu dhuha sampai sore hari; pertama, ingin membantu penjual ayam bakar, memasarkan gorengan sampai membantu mencuci sepeda motor. Semuanya, lagi-lagi berakhir tragis. Ditolak. Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin. Segala puji bagi-Mu ya Allah atas semua skenario-Mu. Setelah semuanya aku lalui dengan sedikit luka di hati, ku memutuskan untuk mengakhiri semua ini. Kembali ke tempat ku menimba ilmu syar’i.
Ketika selesai shalat Ashar, aku berbaring sejenak di depan mushalla sembari membayangkan pengalaman saat itu, tiba-tiba ada dua teman yang melintas di depanku. Langsung ku sapa, dan ku tanyakan bagaimana kabarnya. Alhamdulillah, aku ikut senang melihatnya bahagia, ia sukses mendapatkan rizki bahkan berlebih. Nah, karena lebih itulah, ia mentraktir aku satu plastik susu dan ‘sego kucing’ ketika adzan maghrib sudah berkumandang. Ah, nikmatnya…terima kasih sobat dah mau berbagi. Barakallahu laka wa wahaballahu laka waladan shalihan –ssst, sekarang temanku itu sudah menikah ketika kutuliskan catatan ini-…Amien. Wa innaa insya’Allahu bikum laahiquun.
Setibanya di tempat aku menuntut ilmu, bubur kacang ijo yang disiapkan pak de dapur juga sudah menanti untuk dihabisi. Ah, melihat saja sudah kenyang. Hanya beberapa sendok yang mungkin bisa aku nikmati.
Ketika hendak tidur, ku kembali mengingat kejadian-kejadian yang aku dapati. Semuanya penuh dengan pelajaran dan universitas kehidupan banyak mengajarkan betapa ada hikmah di setiap kejadian. Ada pelajaran berharga dibalik semua pengalaman. Aku jadi merenung, betapa sulitnya kehidupan orang yang serba kekurangan. Itu juga yang mengingatkanku pada sosok pak rebo, tukang becak yang aku temui. Ia memiliki sembilan anak yang ia nafkahi sementara ia sendiri tidak tahu pasti berapa banyak rizki yang akan ia dapati. Aku juga tidak bisa membayangkan bagaimana kalau seandainya setelah dua hari aku pulang ke rumah. Bagaimana reaksi ayah dan ibu ketika melihatku tidak makan dua hari.
Ada seorang teman yang ternyata mengalami hal yang sama aku dapati, tidak mendapatkan sesuap nasi, bercerita kepada kami. Ketika pulang, ayah dan ibunya kaget melihat wajah putra kesayangannya terlihat pucat. Temanku menjawab tegas, “Pa-Bu, saya mau minum air dulu untuk menghilangkan dahaga. Saya masih lelah. Ceritanya nanti ba’da maghrib saja.” Setelah maghrib, temanku bercerita sedangkan ayah-ibunya mendengar dan terbengong-bengong mendengarnya. Ikut merasakan perasaan anaknya yang selama dua hari ini tidak makan. Kata ibunya, “Sekarang sudah bisa nak, membawa uang.” “Ya bisa, sekarang kan sudah selesai.” Jawab temanku. Bisa ditebak, ibunya memberikan uang saku. Beruntung tenan temanku yang satu ini. Memanfaatkan kesempatan. Ah, bisa aja…
Yang terakhir, benar juga kata Luqman Al-Hakim ketika menasehati putranya, “Wahai putraku, carilah rezki yang halal. Tidak lah seseorang itu miskin kecuali ia akan diuji dengan tiga hal; lemah dalam diennya, lemah dalam akalnya dan hilang muru’ahnya. Dan yang paling parah dari itu semua adalah ia diremehkan manusia.”
Lemah dalam dien mungkin tergambarkan ketika aku tidak konsentrasi dan terkantuk-kantuk ketika mendengar khotbah jum’at. Dalam ranah yang lebih luas, orang yang miskin terkadang shalat ketika sempat karena ia tersibukkan dengan mencari nafkah dan badan sudah penat sehingga butuh istirahat. Lebih jauh dari itu adalah bila orang yang miskin terhadap takdir Allah, ia menggugat. Tidak menerima ketentuan Allah Ta’ala. Kadal faqru yakunu kufran, hampir saja kefakiran itu menyebabkan kekufuran. Kita berlindung kepada Allah dari itu semua.
Lemah dalam akal dan hilang muru’ah bisa tergambarkan dengan kondisi orang yang -karena terhimpit ekonomi dan tidak tahan hidup kekurangan serta tuntutan anak dan istri yang selalu menuntut untuk dipenuhi- terkadang membuat dirinya terfitnah (dengan istri dan anak). Sehingga ia rela mencuri demi untuk mendapat sesuap nasi. Sehingga ini menjatuhkan wibawa dan muru’ahnya sebagai manusia. Ah, malang nian.
Dan yang lebih parah lagi, kata luqman, adalah ia diremehkan oleh manusia. Betapa banyak kita saksikan realitas ini di panggung kehidupan masyrakat kita. Orang yang tidak berpunya selalu dipandang sebelah mata dan tidak didengar pendapatnya. Karena pandangan masyarakat kita masih pandangan materialistis sehingga melihat manusia dari segi harta kekayaannya, bukan karena ketakwaannya.
Ketika dulu saya mencatat tulisan ini dengan kondisi yang sangat emosional pada saat itu, ada teman saya yang sempat membacanya. Katanya, aku jadi pingin ikut nangis. Dan ketika kisah ini aku ceritakan sama anak-anak YUPPI, mereka hanya geleng-geleng kepala dan mengatakan, “Kasihan sekali.” Semoga pembaca tidak cuman berkomentar kasihan, tapi berusaha mengambil hikmah dari setiap kejadian. Semoga bermanfaat.

- Copyright © Nurhadi Prayogi - Powered by Blogger - Designed by Nurhadi Prayogi -